PAREPARE, RADIOMESRA. COM — Di tengah tantangan geopolitik global dan disparitas antara produksi dalam negeri serta konsumsi nasional, PT Pertamina (Persero) terus berupaya maksimal menjaga ketahanan dan ketersediaan energi bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti pelaku UMKM dan pengemudi ojek online (ojol).
Hal tersebut diungkapkan oleh Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, di hadapan insan pers dalam kegiatan ngopi bareng media yang digelar di Lagota Cafe and Resto, Jalan Jend. A. Yani, Kota Parepare, Rabu (28/10/26).
Lilik memaparkan, kebutuhan konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barrel oil per day (BOPD), sementara kapasitas produksi dalam negeri baru berada di kisaran 800 ribu BOPD. Sisa kebutuhan tersebut dipenuhi melalui impor, dengan salah satu pemasok terbesar berasal dari Timur Tengah, yakni Arab Saudi. Kondisi ini membuat dinamika global dan geopolitik internasional berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap operasional maupun rantai pasok energi.
Kendati demikian, Lilik menegaskan bahwa Pertamina bersama pemerintah terus berikhtiar memberikan rasa aman bagi masyarakat. Terutama bagi masyarakat ekonomi lemah, pedagang kaki lima (PKL), UMKM, dan ojol yang sangat bergantung pada ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta gas LPG untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan itu, Lilik juga menyoroti peran krusial media massa dalam membentuk opini publik dan menjaga stabilitas psikologis masyarakat. Ia mencontohkan kasus yang sempat terjadi di Makassar pada awal September lalu, di mana stok BBM secara riil tercatat aman, namun lonjakan permintaan mendadak terjadi akibat narasi atau pemberitaan yang memicu kekhawatiran kenaikan harga dan kelangkaan barang.
“Peran media ini sangat krusial karena dapat mempengaruhi opini di masyarakat. Pemberitaan yang berimbang dan menenangkan sangat dibutuhkan agar tidak memicu kepanikan di tengah masyarakat,” ujar Lilik di hadapan para jurnalis Parepare.
Menanggapi arah kebijakan jangka panjang pemerintah terkait target penghentian impor energi (impor migas), Lilik menjelaskan bahwa pemerintah dan Pertamina saat ini tengah menggenjot eksplorasi sumur-sumur baru di dalam negeri. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan Blok Natuna—yang dikenal sebagai salah satu cadangan gas terbesar kedua di dunia—sebagai langkah strategis mewujudkan kemandirian energi nasional di masa depan.




















