PAREPARE, RADIOMESRA. COM β Pemerintah Kota Parepare melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menunjukkan komitmennya dalam menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), dan Forum Anak Kota Parepare, DP3A menggelar aksi pembagian brosur informasi dan edukasi di Lapangan Makassau, Kota Parepare, Ahad (20/09/26).
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3A Kota Parepare, Hj. Cica Jamaluddin, S.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara langsung kepada warga yang tengah beraktivitas di pusat keramaian.
“Pembagian brosur hari ini merupakan bentuk komitmen Pemkot Parepare melalui DP3A dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Besok, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian banner di tempat pelayanan umum yang tersebar di 22 kelurahan, empat kecamatan, puskesmas, hingga Mal Pelayanan Publik untuk meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar Cica.
Cica mengungkapkan, kekerasan seksual menjadi salah satu kasus terbanyak yang mendominasi di Kota Parepare. Karena itu, pihaknya memprioritaskan edukasi proteksi diri bagi perempuan dan anak. Warga yang membutuhkan perlindungan atau ingin melaporkan indikasi kekerasan dapat memanfaatkan DP3A maupun mendatangi langsung kantor UPTD PPA di Jalan Halik Sumpah Minangae.
Selain aksi lapangan, nomor layanan DP3A juga menjadwalkan program sosialisasi ke sekolah-sekolah di seluruh Kota Parepare untuk membentengi para siswa dari potensi kekerasan di lingkungan pendidikan maupun rumah.
Sementara itu, Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Parepare, Hj. Sri Tanti Nasrah, menyambut positif kegiatan edukasi langsung ini. Menurutnya, sosialisasi di tengah warga yang sedang berolahraga pagi sangat efektif membuka kesadaran para orang tua.
“Edukasi ini sangat membantu para ibu. Di sekolah anak-anak diserahkan ke guru, sementara di rumah orang tua kerap sibuk. Padahal kasus kekerasan anak, khususnya bullying (perundungan) di sekolah, masih marak terjadi,” jelas Sri Tanti.
Ia turut menyoroti maraknya kasus perundungan yang melibatkan anak usia sekolah dasar serta pengaruh paparan konten negatif dari penggunaan gawai (gadget). Sri Tanti mengimbau para orang tua agar tidak melepas pengawasan begitu saja dan memperkuat pendekatan emosional serta spiritual kepada anak.
“Orang tua merupakan sumber kehidupan dan anak adalah wajah baru masa depan. Edukasi harus dimulai sejak usia dini agar kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan dapat dicegah,” tegasnya.




















