PAREPARE, RADIOMESRA. COM— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Parepare menegaskan komitmennya dalam meminimalisir dampak bencana alam yang kerap berulang. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, BPBD bergerak aktif memaksimalkan tiga fungsi krusial: Komando, Koordinasi, dan Pelaksana.
Hal tersebut dibeberkan oleh Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Parepare, Erik H, S.Sos., M.M., saat hadir sebagai narasumber dalam program dialog “Ngopi Berjamaah” bersama Ust. Dr. Khayadi di Halaman Masjid Raya Kota Parepare, Jumat (10/7/2026).
“Penanggulangan bencana itu bukan saat terjadi (tanggap darurat) saja. Siklusnya utuh mulai dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga pasca-bencana. Ketiga tahapan ini kami kawal melalui tiga fungsi utama undang-undang,” ujar Erik.
Erik mengurai secara mendalam bagaimana BPBD menerjemahkan regulasi tersebut ke dalam aksi nyata di lapangan:
BPBD memegang wewenang penuh dalam memimpin tahapan penanggulangan. Pada fase pra-bencana, fokus diarahkan pada pencegahan dan kesiapsiagaan melalui edukasi masif. BPBD rutin turun ke sekolah-sekolah, instansi pemerintah, hingga BUMN untuk melakukan simulasi bencana 2 hingga 3 kali dalam sebulan.
Sebelum status darurat ditetapkan, BPBD telah mengonsolidasikan kekuatan bersama TNI, Polri, serta instansi vertikal seperti Basarnas dan Polairud. Koordinasi ini meliputi pemetaan kekuatan personel dan pengecekan kesiapan alat (seperti perahu karet jelang musim hujan). Saat siaga darurat, seluruh stakeholder berkumpul di Pos Komando (Posko) kantor Pelayanan Perkabin, Jalan Jenderal Sudirman, untuk memetakan titik penanganan.
Implementasi di lapangan didasarkan pada dokumen kajian risiko bencana yang telah disusun rapi. BPBD memetakan potensi bencana spesifik di setiap wilayah agar respons penanganan dan distribusi bantuan bisa berjalan cepat serta tepat sasaran.
Menanggapi fenomena bencana yang kerap terjadi berulang, Erik menekankan pentingnya faktor pengetahuan masyarakat atau *community resilience*. Menurutnya, meski bencana alam tidak bisa ditolak oleh manusia, dampaknya bisa ditekan secara signifikan jika warga memiliki bekal mitigasi yang baik.
“Siapa yang menginginkan terjadi bencana? Tentu tidak ada. Namun, dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi yang kita miliki dan terus kita edukasikan kepada masyarakat, hal ini tentu sangat mempengaruhi dan terbukti dapat mengurangi risiko serta kerugian.




















