PAREPARE, RADIOMESRA. COM — Perawatan paliatif tidak hanya berfokus pada kesembuhan pasien, tetapi juga sangat mengutamakan peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan pasien secara menyeluruh. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Program Studi D3 Keperawatan sekaligus dosen tersertifikasi, Ns. Yunita Palinggi, S.Kep., M.Kep., dalam perbincangan khusus.
Menurut Ns. Yunita, dalam praktiknya, perawatan paliatif berjalan dengan tidak mengesampingkan kesehatan serta kondisi psikologis pendamping maupun keluarga pasien. Mengingat sebagian pasien paliatif dirawat di rumah, peran keluarga menjadi sangat sentral sebagai perpanjangan tangan tenaga medis di lingkungan rumah.
“Keluarga berperan penting, mulai dari memberikan dukungan psikologis, menemani pasien, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien yang sudah tidak mandiri, seperti membantu memandikan atau mengubah posisi tidur,” ujar Ns. Yunita.
Kendati demikian, ia menekankan bahwa perawatan ini merupakan bentuk kerja sama sinergis antara tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga. Jika terjadi perubahan kondisi pada pasien, keluarga dapat segera melaporkannya kepada tenaga medis atau dokter pribadi untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Dari sisi dunia pendidikan, Ns. Yunita menjelaskan bahwa institusinya telah membekali mahasiswa keperawatan dengan mata kuliah keperawatan paliatif sebagai dasar pemahaman. Namun, bagi perawat yang ingin mendedikasikan diri secara spesifik di bidang ini, diperlukan pelatihan lanjutan yang intensif, termasuk pelatihan komunikasi terapeutik.
“Sensitivitas pasien paliatif sangat tinggi, sehingga perawat dan keluarga perlu memiliki keterampilan komunikasi yang baik agar pasien merasa nyaman dan tidak merasa kesepian,” pungkasnya.




















