MAKASSAR, RADIOMESRA. COM β Penguatan ekosistem ekonomi kreatif (Ekraf) di Sulawesi Selatan membutuhkan peta pengembangan yang lebih terarah, kolaboratif, dan berbasis pada potensi masing-masing daerah.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam program Paraikatte TVRI Sulsel yang menghadirkan tiga narasumber, yakni Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulawesi Selatan Hj. Andi Mirna, Koordinator Daerah Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Sulsel Andi Haswan Saddade, serta Direktur Pascasarjana Universitas Handayani Makassar yang mewakili unsur akademisi.
Dalam dialog yang berlangsung pada 16 September 2026 tersebut, Andi Haswan menekankan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya melalui kegiatan atau event, tetapi membutuhkan peta jalan yang mampu menghubungkan potensi daerah dengan ekosistem usaha, investasi, pendidikan, teknologi, budaya, hingga pasar.
Menurutnya, Sulawesi Selatan memiliki kekayaan budaya, talenta, komunitas, produk kreatif, serta potensi pariwisata yang dapat menjadi kekuatan ekonomi baru apabila dikelola melalui ekosistem yang terintegrasi.
βKita tidak boleh melihat ekonomi kreatif hanya sebagai subsektor usaha atau kegiatan event. Ekraf harus dipandang sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan masyarakat.β
Karena itu, ICCN Sulsel mendorong adanya pemetaan potensi ekonomi kreatif hingga tingkat kabupaten dan kota. Pemetaan tersebut penting untuk mengetahui kekuatan masing-masing wilayah, subsektor yang berkembang, talenta yang tersedia, kebutuhan infrastruktur, akses pembiayaan, hingga peluang pasar yang dapat dikembangkan.
Mendorong Perda Ekonomi Kreatif
Dalam dialog tersebut, Andi Haswan juga menyoroti pentingnya kehadiran regulasi daerah sebagai fondasi pengembangan ekosistem ekonomi kreatif.
Ia mendorong agar Peraturan Daerah tentang Ekonomi Kreatif dapat menjadi instrumen kebijakan yang memberikan kepastian sekaligus arah pembangunan ekonomi kreatif di Sulawesi Selatan maupun kabupaten/kota.
βPerda Ekraf bukan sekadar dokumen regulasi. Yang kita butuhkan adalah regulasi yang mampu menjadi payung bagi pengembangan talenta, perlindungan kekayaan intelektual, akses pembiayaan, inkubasi bisnis, pemasaran, infrastruktur kreatif, hingga penguatan jejaring industri,β ujarnya.
Menurut Andi Haswan, regulasi juga diperlukan agar pengembangan ekonomi kreatif tidak bergantung pada program yang bersifat temporer.
Ekraf harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah dan memiliki kesinambungan lintas periode pemerintahan.
Dalam konteks tersebut, kolaborasi hexahelix menjadi penting, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, serta lembaga keuangan atau investor dapat duduk bersama membangun ekosistem yang saling terhubung.
Dari Potensi Lokal Menuju Pasar Global
Pembahasan mengenai penguatan ekosistem daerah juga menjadi relevan menjelang pelaksanaan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta pada 21β23 Oktober 2026.
WCCE 2026 akan berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, dan mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, komunitas, organisasi internasional, investor, serta berbagai pemangku kepentingan ekonomi kreatif dari berbagai negara.
Forum tersebut mengusung tema βInclusively Creative: Collective Continuityβ dan diarahkan untuk memperkuat kolaborasi serta membangun agenda ekonomi kreatif di tingkat global. Salah satu agenda strategis WCCE 2026 adalah penyusunan Jakarta Vision for Creative Economy.
Bagi ICCN Sulsel, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk membawa suara, potensi, dan praktik baik ekonomi kreatif dari daerah ke panggung nasional dan internasional.
βWCCE jangan hanya dilihat sebagai konferensi di Jakarta. Kita harus melihatnya sebagai pintu bagi daerah untuk memperkenalkan potensi kreatifnya, membangun jejaring, membuka peluang kolaborasi dan investasi, serta membawa pulang pengetahuan dan peluang tersebut untuk dikembangkan di daerah,β kata Andi Haswan.
Sulsel Harus Punya Identitas Kreatif
Andi Haswan menilai Sulawesi Selatan perlu memiliki narasi besar mengenai identitas ekonomi kreatif daerah.
Setiap kabupaten dan kota, menurutnya, harus mampu mengidentifikasi keunggulan kreatifnya masing-masing. Dengan demikian, pengembangan ekonomi kreatif tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi sebuah jaringan ekonomi kreatif Sulawesi Selatan yang saling melengkapi.
βParepare punya karakter dan potensinya sendiri. Makassar punya kekuatan sebagai kota jasa dan pusat kreativitas. Daerah lain memiliki kekuatan budaya, kuliner, kriya, fesyen, seni pertunjukan, pariwisata, hingga subsektor kreatif lainnya. Ini yang harus kita petakan dan kemudian kita hubungkan,β jelasnya.
Ia menambahkan, peta ekonomi kreatif Sulsel idealnya tidak berhenti pada data dan katalog potensi. Peta tersebut harus menjadi dasar untuk menentukan intervensi kebijakan: siapa yang harus dibina, subsektor apa yang perlu diperkuat, infrastruktur apa yang dibutuhkan, akses pasar mana yang harus dibuka, dan investasi apa yang dapat didorong.
Momentum Konsolidasi Ekraf Sulsel
Kehadiran unsur pemerintah, ICCN, dan akademisi dalam program Paraikatte dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat dialog lintas sektor mengenai masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Selatan.
Bagi ICCN Sulsel, ruang-ruang dialog seperti ini penting untuk membangun kesamaan visi bahwa ekonomi kreatif bukan sekadar aktivitas komunitas, melainkan salah satu bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah.
Terlebih, ICCN dan Kementerian Ekonomi Kreatif saat ini juga tengah memperkuat keterhubungan ekonomi kreatif daerah menuju WCCE 2026. Program Road to WCCE antara lain diarahkan untuk mengangkat suara ekonomi kreatif daerah melalui jejaring TVRI dan berbagai program penguatan eksposur potensi kreatif daerah.
Dengan demikian, momentum WCCE 2026 dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kekuatan lokal dengan jejaring global.
βYang kita ingin bangun adalah ekosistem. Talenta di daerah harus bertemu dengan pendidikan. Kreator harus bertemu pasar. Pelaku usaha harus bertemu pembiayaan. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan. Media memperluas narasi, dan komunitas menjadi penggerak di lapangan,β kata Andiz Pettalolo sapaan akrabnya
Ia berharap pembahasan mengenai peta pengembangan ekonomi kreatif, penguatan regulasi, serta keterlibatan Sulawesi Selatan dalam agenda ekonomi kreatif nasional dan global dapat terus dikonsolidasikan.
βDari daerah kita membangun, dari Sulawesi Selatan kita bersuara, dan melalui jejaring global kita membawa karya serta potensi kreatif Indonesia ke dunia.β




















