PAREPARE, RADIOMESRA. COM — Penataan infrastruktur serta pemerataan kualitas pendidikan di Kota Parepare terus menjadi perhatian mendalam dari berbagai kalangan. Dalam program siaran Bincang Pendidikan yang berlangsung pada Sabtu (15/8/2026), gagasan mengenai merger (penggabungan) hingga relokasi sekolah sepi peminat mencuat sebagai solusi strategis dalam mengurai ketimpangan daya tampung sekolah.
Akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM) sekaligus Ketua LSM Lapekom, Dr. Zaid Zainal, menegaskan komitmen lembaga yang dipimpinnya untuk terus mengawal kebijakan Pemerintah Kota Parepare di bidang pendidikan. Menurutnya, LSM Lapekom konsisten memberikan masukan serta analisis kritis demi perbaikan sistem pendidikan di daerah tersebut.
“Sejak awal audiensi dengan Wali Kota, kami sudah sampaikan bahwa LSM Lapekom fokus pada isu pendidikan. Kami siap mengawal pemerintah, namun jika ada kebijakan yang menurut analisis kami kurang tepat, kami akan sampaikan kekurangannya beserta solusinya. Tugas pengawasan dan pemberian saran sudah kami laksanakan, selanjutnya terserah pemerintah untuk melakukan kajian mendalam,” tegas Dr. Zaid Zainal.
Ia menuturkan, berbagai masukan konstruktif yang membawa dampak positif.baik bagi pemerintah maupun masyarakat telah disampaikan secara langsung. Lapekom berharap Pemkot Parepare bersama jajarannya dapat segera menindaklanjuti kajian teknis agar langkah kebijakan yang diambil tepat sasaran.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Parepare, Parman Agus Mante, menyoroti pentingnya langkah taktis berupa relokasi sekolah untuk mengurai penumpukan siswa di wilayah-wilayah pertumbuhan baru, seperti kawasan Bacukiki Atas.
Parman menjelaskan bahwa sekolah seperti SD 85 dan SD 34 Parepare saat ini mengalami lonjakan pendaftar yang luar biasa seiring pesatnya pertumbuhan penduduk setempat, sehingga jumlah sekolah yang ada tidak lagi sebanding dengan daya tampung.
“Semangat merger itu memang kita perlukan, tetapi tidak harus selalu melebur atau menghilangkan sekolah dalam satu atap. Relokasi adalah pilihan logis. Sebagai contoh, sekolah dasar di kota yang sepi peminat bisa direlokasi ke Bacukiki Atas. Saya yakin sekolah tersebut akan dibanjiri peminat karena masyarakat di sana sangat membutuhkan akses sekolah, bukan sekadar melihat sejarah unggul atau tidaknya,” ungkap Parman.
Lebih lanjut, Parman memaparkan tiga poin kunci dalam pembenahan pendidikan dasar di Parepare:
1. Pemerataan Kualitas Pendidikan: Relokasi tidak menghilangkan nilai sejarah sekolah, melainkan mendekatkan pelayanan ke wilayah yang membutuhkan.
2. Integrasi Sekolah Satu Atap: Model satu atap harus terintegrasi dengan baik secara manajemen dan hubungan antarsekolah, sehingga membuang jauh ego sektoral atau keretakan harmonisasi antar-pengelola sekolah.
3. Rehabilitasi Sekolah Sepi Peminat: Pemerintah harus melakukan evaluasi dan perbaikan sarana serta infrastruktur pada sekolah-sekolah yang minim peminat untuk mengetahui akar penyebabnya.
Dengan sinergi antara akademisi, organisasi masyarakat, dan legislatif, Pemkot Parepare diharapkan dapat segera mengeksekusi rekomendasi kebijakan ini demi menciptakan iklim pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas.




















