PAREPARE, RADIOMESRA. COM – Festival Salokarajae Resmi berakhir pada Rabu (01/10/25) dan di tutup langsung walikota Parepare H. Tasming Hamid. Festival salokarajae ini, agenda nasional dalam rangka memancing orang datang ke parepare.
Menurut Ketua DPRD kota Parepare Ir. H. Kaharuddin Kadir M.Si festival ini harap kunjungan ke parepare pada pelaksanaan event ini bertambah, makanya perlu memang event ini harus dipikirkan jauh lebih bagus.
“Saya pernah kasih saran, kenapa kita tidak coba di festival salokarajae diadakan lomba burung kicau, dan sebagainya, itu banyak orang pasti, Mesti panitianya ke depan ini harus lebih kreatif, kita mau di festival salokarajae ini, lomba yang tidak biasa dilakukan ketika 17 Agustus, karena memang ini sejarahnya festival salokarajae ini kegiatan anak muda disumpang awalnya, inilah yang awalnya cikal bakal festival Salokarajae. Saya lebih setuju Kalau tampilan budaya kita, budaya Bacukiki, budaya parepare yang dimunculkan supaya ini menjadi agenda tujuan pariwisata.” Kata H. Kaharuddin.
Sementara Wakil ketua DPRD periode 2019-2024 yang juga ketua DPC partai Demokrat kota Parepare M. Rahmat Sjamsul Alam menyoroti terkait lokasinya itu sedikit merubah, nuansa nama salokarajae karena lebih dominan pantainya, daripada sungainya.
“Beda dulu, memang semuanya arahnya di salokarajae, kedua bisa dilihat langsung oleh publik, orang lewat, malam, bisa dilihat bahwa ada festival, sehingga pengunjung mau datang, ini tidak kelihatan. artinya inikan tergantung kreativitas. Yang kedua terkait dengan festival ini nuansanya sudah tingkat nasional, jadi brand pemikirannya juga harus berubah, kalau dulu masih lokal, kalau skala nasional, pemikiran kita itu pesertanya dari luar, kalau tingkat regional berarti pesertanya dari provinsi, kalau nasional minimal ada dari luar provinsi, karena namanya festival masuk event nasional.” Jelas Rahmat.
Menurut Mantan kontestan pilkada Parepare 2024 ini, karena ini event nasional pesertanya harus dari luar, karena ini visinya waktu itu identik dengan visinya teori telapak kaki, maksudnya ditingkatkan ke level nasional dalam rangka mewujudkan teori telapak kaki begitu tujuannya, dari skala kecil dikembangkan karena ada visi misi teori telapak kaki dengan target kalau orang luar datang berarti akan mendapat banyak penghasilan, hotel, makan UMKM hidup karena uangnya dari luar bukan uang dari dalam berputar-putar tidak bertambah.
“Contoh, setiap kabupaten kota bahkan di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulbar itu bahkan di Sulawesi pada umumnya, menyambut kedatangan tamu-tamu itu di dahului dengan tari Paduppa, maka tari Paduppa ini, dijadikan satu lomba bagi setiap kabupaten kota atau wilayah Sulbar kita undang, dengan kebijakannya itu tentu kebijakan gubernur, itu intervensi gubernur, dalam membuat kebijakan dalam bentuk keputusan, agar setiap daerah bisa mengikuti acara festival salokarajae. Karena dia Event nasional, bisa dibuat begitu. Lomba di setiap kabupaten kota punya adat pakkacapi, di buatkan lomba pakkacapi budaya makkacaping tentang sejarah lagu Bugis itu bisa diundang kabupaten kota untuk menghadirkan masing masing budayanya.” Ungkap Rahmat




















