PAREPARE, RADIOMESRA. COMM— Perusahaan Daerah Air Minum (PAM) Tirta Karajae Kota Parepare menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan terbaik sekaligus keterbukaan informasi publik kepada masyarakat. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Direktur PAM Tirta Karajae Kota Parepare, Dr. Abdul Azis, S.E., M.Ak., saat menjadi narasumber dalam kegiatan dialog publik “Ngopi Berjamaah” yang berlangsung di Parepare, Jumat (04/09/26).
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Azis memaparkan tingginya beban operasional produksi air bersih. Menurutnya, Harga Pokok Produksi (HPP) yang ada saat ini sebenarnya belum sepenuhnya menutup biaya operasional, di mana salah satu beban terbesar berasal dari biaya listrik pompa produksi yang mencapai sekitar Rp40 juta setiap bulannya.
Meski demikian, Abdul Azis menegaskan bahwa PAM Tirta Karajae tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat. Salah satunya adalah dengan tidak menerapkan sistem tarif progresif.
“Satu kesyukuran, mungkin Parepare ini satu-satunya daerah di Sulawesi Selatan yang PDAM-nya tidak menerapkan tarif progresif. Penggunaan air pada volume awal tetap dikenakan tarif dasar tanpa kenaikan berlipat, sehingga tidak memberatkan pelanggan,” ujar Abdul Azis.
Menanggapi banyaknya pertanyaan dan keluhan warga di media sosial terkait tagihan air yang mendadak melonjak melebihi Rp100 ribu, Abdul Azis meminta masyarakat untuk tidak panik dan segera melakukan pemeriksaan awal di lingkungan rumah.
Ia menjelaskan bahwa pembengkakan tagihan mayoritas dipicu oleh dua hal: adanya kebocoran instalasi pipa di dalam rumah atau kran air yang lupa ditutup saat pasokan air terhenti sementara akibat pemadaman listrik.
“Langkah pertama yang harus dilakukan masyarakat adalah memeriksa apakah ada kebocoran di dalam rumah. Kadang saat air mati, kran dibuka dan lupa ditutup kembali. Namun, jika merasa tidak pernah melakukan hal tersebut, pelanggan disilakan melapor ke kami untuk dilakukan uji tes meteran,” terangnya.
Ia mencontohkan kasus baru-baru ini, di mana seorang pelanggan melapor karena tagihan rumah kosongnya melonjak tinggi. Setelah ditelusuri oleh tim teknis PAM Tirta Karajae, ditemukan bahwa pipa di area rumah tersebut tidak sengaja rusak saat pemilik rumah melakukan pembersihan beberapa hari sebelumnya.
“Setelah kami telusuri, ternyata ada pipa bocor akibat terkena cangkul saat pembersihan rumah. Jadi ini murni masalah kebocoran di internal pelanggan, bukan kesalahan sistem meteran kami,” jelasnya.
Abdul Azis juga menyayangkan adanya warga yang memilih mengeluh di media sosial hingga berhari-hari dibanding melaporkan langsung masalah teknis ke pihak PAM Tirta Karajae.
Ia mengimbau masyarakat untuk segera melapor melalui saluran resmi perusahaan agar kendala di lapangan dapat langsung ditangani secara cepat. Apabila gangguan air disebabkan oleh kendala teknis dari pihak PAM Tirta Karajae, perusahaan siap mendistribusikan air bersih secara gratis.
“Jika memang kendala terjadi akibat kesalahan atau gangguan dari pihak kami, PAM berkewajiban untuk mengantarkan air tangki langsung ke rumah pelanggan. Untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan pasokan, hari ini kami juga telah bekerja sama dengan pihak Damkar dan BPBD Kota Parepare guna melayani kebutuhan air bersih masyarakat,” pungkas Abdul Azis.




















