PAREPARE, RADIOMESRA. COMΒ β Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Parepare mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan Tuberculosis (TBC) serta menghapus stigma keliru yang masih berkembang di tengah warga.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Kesmas, Kesling, dan P2P Dinkes Kota Parepare, Edy Kusuma Suhardi, dalam kegiatan Ngopi Berjamaah di Masjid Raya Parepare, Jumat (28/08/26).
Edy menjelaskan bahwa penularan TBC murni terjadi melalui udara via percikan liur (droplet) saat penderita batuk, bersin, bahkan sekadar bernapas, dan bukan melalui alat makan.
“Penyakit TBC ini hanya bisa menular melalui udara, jadi tidak bisa menular melalui alat makan. Ditularkan melalui batuk atau bersin. Bahkan pemutakhiran ilmu pengetahuan menunjukkan bernapas pun sudah ada kuman TBC yang keluar,” terang Edy.
Ia menambahkan, ketahanan tubuh seseorang sangat menentukan respons saat terpapar kuman TBC yang terhirup. Karena itu, skrining aktif ke tingkat kelurahan dan kantong-kantong pemukiman gencar dilakukan untuk mendeteksi kasus sedini mungkin.
“Cara penularannya sangat simpel, kita menghirup *droplet* dari penderita positif. Jumlah kuman 1 sampai 10 pun bisa menularkan, tergantung kondisi fisik seseorang. Jika ada keluarga atau teman yang batuk lama, mendampingi atau menyuruh mereka tes ke puskesmas adalah langkah krusial,” jelasnya
Di Kota Parepare, penemuan kasus baru TBC rata-rata mencapai 700 hingga 800 kasus setiap tahunnya. Untuk tahun 2026, tercatat sudah ada sekitar 543 kasus baru yang terdeteksi.
Meski demikian, Dinkes masih menemukan kendala di mana sebagian masyarakat memandang TBC sebagai penyakit kutukan, khususnya saat gejala parah seperti batuk muntah darah terjadi. Stigma ini kerap memicu keterlambatan penanganan pada anggota keluarga lainnya.
“Di masyarakat masih sering kita temukan yang merasa TBC ini kutukan karena muntah darah, padahal ini murni penyakit medis dan obatnya tersedia gratis di puskemas. Kami tegaskan ini bukan semata proyek, melainkan upaya menjaga kesehatan warga Parepare,” tegas Edy.
Upaya aktif Dinkes Parepare dalam menjemput bola berhasil menempatkan kota ini dalam deretan satu hingga tiga terbaik di Sulawesi Selatan untuk kategori penemuan kasus TBC. Selain itu, Edy juga mengingatkan bahwa kebiasaan merokok menjadi salah satu pemicu utama yang memperbesar risiko terjadinya TBC.




















