31.4 C
Pare-Pare
Sabtu, Agustus 15, 2026
spot_img

Soal Reagregasi Sekolah Sekompleks di Parepare, Ketua Komisi 2 DPRD Ceritakan Pengalaman Masa Kecil Pernah 5 Kali Pindah SD

PAREPARE, RADIOMESRA. COM — Isu penggabungan (regrouping/reagregasi) sekolah-sekolah yang berada dalam satu kompleks (sekolah sekompleks) di Kota Parepare kembali hangat diperbincangkan. Fenomena sekolah sekompleks dinilai tidak hanya menyisakan persoalan manajerial, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi psikis serta kesenjangan sosial siswa.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Komisi 2 DPRD Kota Parepare, Parman Agus Mante, dalam program dialog bertajuk Spesial Program Bincang Pendidikan dengan tema “Sekolah Sekompleks di Parepare: Perlu Dikaji Ulang atau Dipertahankan?”.

Dalam acara yang dipandu oleh host Sahran Himamaru tersebut, Parman Agus Mante membagikan kisah personalnya semasa kecil sebagai refleksi atas pentingnya kajian ulang terhadap sekolah sekompleks.

“Sebelum masuk ke materi teknis, saya ingin flashback cerita masa lalu saya. Waktu SD, saya pernah sampai lima kali berpindah sekolah. Salah satu yang pernah saya tempati adalah SD 48 dan SD 40 yang berada dalam satu kompleks dengan SD 62 di Kilometer 5,” ungkap Parman.

Menurut Parman, hidup di lingkungan sekolah sekompleks membuat perbedaan status sosial antar-sekolah terasa sangat kentara. Perbedaan itu terlihat mulai dari kondisi fisik bangunan hingga latar belakang sosial ekonomi para siswa.

“Dari sisi bangunan saja, SD 40 dulu posisinya berada sekitar 1,5 meter di bawah elevasi lapangan. Kalau sekolah lain jadwal olahraga, debunya masuk ke kelas kami. Belum lagi saat jam istirahat atau jadwal keluar bersamaan, ego atas nama sekolah sering memicu bentrokan dan gontok-gontokan antar-anak kecil,” tuturnya.

Ia membeberkan bahwa pada masa itu terjadi terkotak-kotaknya (kanalisasi) latar belakang siswa di tiap sekolah dalam satu kompleks tersebut.

“SD 40 yang saya tempati mayoritas diisi oleh anak-anak panti asuhan atau dari keluarga tidak mampu. Sementara SD 48 mayoritas anak-anak tentara dan ASN dari Kodim/Korem, dan SD 62 didominasi warga sekitar. Kondisi ini memicu gesekan, aksi saling olok, hingga rasa minder pada anak-anak yang sekolahnya dikategorikan dimarginalkan,” jelas Ketua Komisi 2 DPRD Parepare tersebut.

Melihat dampak psikologis dan kesenjangan sosial yang nyata dari masa ke masa, Parman menegaskan bahwa DPRD Parepare melalui Komisi 2 telah mendorong pemerintah daerah untuk melakukan kajian mendalam terkait efektivitas serta dampak dari wacana penggabungan (regrouping) sekolah sekompleks ini.

“Dalam kapasitas saya sebagai Ketua Komisi 2, kami di DPRD sebenarnya sudah menggagas dan meminta kepada pemerintah daerah untuk mengkaji ulang secara komprehensif. Kita harus melihat dampaknya secara luas jika sekolah-sekolah ini digabungkan,” tegasnya.

Selain Parman Agus Mante, hadir pula narasumber pakar pendidikan Dr. Zaid Zainal (Dosen Universitas Negeri Makassar sekaligus Ketua LSM Lapekom) yang turut membedah dari sudut pandang akademis dan pemberdayaan masyarakat.

Program Spesial Program Bincang Pendidikan ini disiarkan secara multiplatform melalui Radio Mesra 102.8 MHz, live streaming di [www.radiomesra.com](https://www.radiomesra.com), serta kanal media sosial Facebook, YouTube, dan TikTok *Radio Mesra Parepare*.

Most Popular

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
  • https://radioku.my.id:8243/mesra
  • Radio Mesra Parepare