PAREPARE, RADIOMESRA. COM — Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Fatima Parepare melepas lima orang mahasiswa tingkat akhir program studi D3 Keperawatan untuk mengikuti program magang ke Jepang. Kelima mahasiswa tersebut kini tengah berada di Makassar untuk menjalani bimbingan intensif serta pelatihan bahasa Jepang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen sekaligus Lektor STIKES Fatima Parepare, Ns. Yenny Djeny Randa, S.Kep., M.Kes., saat hadir dalam program *Ruang Bincang Kesehatan* di Radio Mesra Parepare, Selasa (23/06/2026) lalu
Yenny mengungkapkan, program magang ini merupakan bagian dari program resmi pemerintah. Selain mendapatkan pengalaman kerja berskala internasional, para mahasiswa keperawatan ini nantinya juga akan menerima uang saku atau insentif yang cukup menggiurkan selama berada di Negeri Sakura.
“Ini suatu kebanggaan bagi institusi kami. Anak-anak kami ada lima orang yang sementara di semester akhir mengikuti program dari pemerintah ini. Untuk insentif yang akan mereka terima nanti, yang penting angkanya mencapai dua digit. Mereka akan magang di sana kurang lebih selama satu tahun atau 12 bulan,” ujar Ns. Yenny Djeny Randa.
Meski demikian, sebelum diterbangkan ke Jepang, para mahasiswa harus melewati serangkaian prosedur dan tes kelulusan yang ketat selama masa bimbingan di Makassar.
Mengenai status akademik kelima mahasiswa tersebut, pihak STIKES Fatima memberikan fleksibilitas penuh. Mengingat mereka sudah berada di tingkat akhir, institusi memberikan kelonggaran agar mereka bisa mengikuti ujian hasil penelitian secara daring (online).
“Kami tetap memberikan kebebasan dan fasilitas. Kalaupun mereka tidak selesai (wisuda) pada semester ini karena harus berangkat, setelah pulang magang nanti institusi akan tetap membimbing mereka hingga menyelesaikan studi dan wisuda,” jelasnya.
Yenny menambahkan bahwa mahasiswa STIKES Fatima Parepare sejauh ini mendapatkan respons yang sangat positif dari pihak pengguna (user) di Jepang. Bahkan, pihak rumah sakit atau fasilitas kesehatan di sana menyatakan ketertarikannya untuk merekrut mereka kembali setelah lulus kuliah.
“Puji Tuhan sekali, pihak di sana memberikan respons positif kepada anak-anak kami dan mau menerima mereka kembali kelak. Namun, institusi menegaskan agar mereka menyelesaikan dulu studinya di sini hingga meraih gelar. Setelah lulus, apakah mereka mau langsung bekerja kembali ke Jepang, institusi kami akan tetap memfasilitasi karena mereka adalah anak-anak kami,” pungkas Yenny.




















