PAREPARE, RADIOMESRA. COM – Banyak bahasa daerah sekarang yang terancam punah akibat kurang penghargaan pada bahasa daerah. Hal tersebut di sampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare Drs. Arifuddin Idris Saat memberi Sambutan pada penutupan Festival Tomaugi (Pitenggesso mabbahasa ugi) di Balai Ainun Ahad (27/02/22).
“Hari ini satu bentuk kegiatan yang sangat momentum untuk kita coba merefresh balik apa bentuk-bentuk kegiatan kita selama ini sudah mampu menjawab keraguan akan punahnya bahasa daerah Bugis. Tentunya ini sangat berat dan panjang tapi harus tapi karena dukungan pemerintah daerah melalui dinas pendidikan saya pikir kegiatan ini akan berjalan. Ada hal menarik tentang bahasa daerah. Kita tahu bahwa di sekolah masih diajarkan pelajaran bahasa daerah bahkan kami masih wajib kan cuma regulasinya yang itu-itu saja perlu diperbaharui supaya lebih update sesuai kebutuhan.” Kata Arifuddin.
Lanjut Arifudfin, dirinya pernah mengatakan kalau guru bahasa daerah hanya selalu mengajarkan ka ga ngang ka dan seterusnya pasti punah karena hanya disuruh membaca dan menulis daerah tapi tidak diaplikasikan. Saat ini dirinya melihat sekarang ini lebih dominan bahasa Indonesia jika berkomunikasi dengan keluarga mestinya di perbanyak berinteraksi dengan keluarga dengan menggunakan bahasa daerah.
“Sehingga saya katakan regulasi perlu ada dan guru harus inovatif. Ada hal menarik bahwa kalau anak hanya disuruh menulis dan membaca pasti sekedar menggugurkan kewajiban karena itu menjadi pelajaran yang ujikan. Untuk Kabid kebudayaan mungkin kita bisa duduk bersama bagaimana masuk dalam bagian refilasi agar nanti di sekolah ada elong elong ogi betul apa yang disampaikan Ibu wali itu benar bahwa banyak petuah-petuah berdasarkan hadis ternyata itu bisa di tulis dalam bentuk tulisan indah ini yang mau di rumuskan bagaimana modelnya modal tulisan indah bahasa Bugis sehingga anak-anak mencintai” Jelas Arifuddin
Tambah Arifuddin, hal berikutnya mulai sekarang harus berpikir mungkin jenjang SMP/SMA yang sudah punya prakarya itu bisa ada label bahasa Bugis di situ sehingga ini yang perlu dipikirkan. Dirinya berharap mau tidak mau guru harus menghadapi dengan teknologi jadi pembelajaran bahasa Bugis bisa dihasilkan melalui kemampuan guru apakah itu seperti game, permainan bahasa Bugis sehingga anak-anak jadi tertarik.
“Yang perlu digalakkan lomba bahasa Bugis Saya yakin Saya jamin tahun 2023 lomba ini terulang dan di dukung dinas pendidikan. Terima kasih untuk Ikatan Guru Bahasa Daerah mendorong hal ini dan tentu kami segera menangkap apa yang menjadi. Dan insya Allah menjadi bagian regulasi yang kita godog bersama ada bahasa Bugis dalam satu minggu jadi perda nanti itu tidak sekedar untuk di sekolah saja masyarakat pun bahkan kalau perlu nama-nama jalan kita di samping ada tulisan Indonesia ada juga bahasa daerah perlu dukungan semua pihak.” Tutup Arifuddin.




















