PAREPARE, RADIOMESRA. COM — Sistem kelistrikan di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sulbagsel) saat ini tengah mengalami tekanan berat akibat defisit daya operasional. Hal ini berdampak pada dilakukannya manajemen beban atau pemadaman listrik secara bergilir di berbagai daerah, termasuk Kota Parepare.
Assistant Manager Jaringan dan Konstruksi PLN, Andi Selle, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara total daya terpasang dengan daya mampu riil pembangkit di lapangan. Secara akumulatif, daya terpasang di sistem Sulbagsel mencapai sekitar 2.900 Megawatt (MW), namun daya mampu riilnya saat ini turun menjadi hanya sekitar 1.800 MW.
“Ibarat sepeda motor, di spidometer tertulis bisa lari hingga 200 km/jam, tetapi di lapangan paling hanya bisa sampai 120 km/jam. Seperti itulah daya mampu kita. Daya terpasang kita di seluruh Sulbagsel sebenarnya ada 2.900 MW, namun daya mampunya saat ini hanya sekitar 1.800 MW,” ujar Andi Selle, Kamis (10/09/26).
Di sisi lain, tingkat konsumsi masyarakat atau beban puncak listrik di wilayah Sulbagsel kini melonjak tinggi hingga mencapai 1.829 MW. Angka ini telah melampaui batas daya mampu sistem, di mana lonjakan beban puncak kini terjadi merata sepanjang hari.
“Saat ini beban puncak kita sudah sangat tinggi, mencapai 1.829 MW. Dulu beban puncak hanya terjadi pada malam hari, tetapi sekarang siang maupun malam kondisinya sama-sama tinggi,” ungkapnya.
Kondisi ini makin diperberat dengan adanya penurunan kapasitas (derating) pada beberapa pembangkit utama akibat faktor cuaca. Salah satunya adalah PLTA Poso yang kapasitasnya menurun dari 500 MW menjadi hanya 300 MW. Manajemen air terpaksa dilakukan pada siang hari untuk menampung pasokan agar bisa memenuhi kebutuhan beban puncak pada malam hari. Meskipun perbaikan pada sistem Jeneponto sebesar 250 MW telah rampung pada 5 September lalu, kendala debit air di PLTA Bakaru juga turut memengaruhi stabilitas pasokan.
Terkait durasi pemadaman bergilir yang berlangsung hingga 4 jam, Andi Selle menegaskan bahwa manajemen PLN sejatinya telah berupaya menawar agar durasi pemadaman bisa dipangkas.
“Sebenarnya kami dan General Manager (GM) sangat ngotot meminta agar pemadaman cukup 2 jam saja. Namun, sistem kita ini terinterkoneksi ke seluruh wilayah Sulbagsel, mulai dari Kendari, Mamuju, hingga wilayah selatan. Parepare mendapatkan kuota pemadaman beban sekitar 3,5 MW per hari,” jelas Andi Selle.
Ia mengungkapkan, jika opsi 2 jam dipaksakan dengan kuota beban yang ada, pelanggan di penyulang yang sama berisiko mengalami pemadaman hingga dua kali dalam sehari (pagi/siang dan malam). Hal tersebut dinilai akan makin menyulitkan dan memperkeruh aktivitas masyarakat.
“Kalau dibuat 2 jam, pelanggan bisa kena dua kali pemadaman dalam sehari—pagi kena, malam kena lagi. Itu tentu makin memperkeruh suasana dan memberatkan masyarakat. Maka dari itu, skema 4 jam sekali padam merupakan pilihan yang paling optimal untuk membagi beban secara adil,” pungkasnya.




















