PAREPARE, RADIOMESRA. COM — Warga di kawasan pegunungan dan pemukiman seperti Perumnas Lompoe, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, mengeluhkan sulitnya mendapatkan Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di toko-toko pengecer sekitar rumah mereka.
Kondisi ini membuat warga berekonomi lemah merasa kian terbeban. Selain harus membeli beras biasa dengan harga lebih mahal mencapai Rp13.000 per liter mereka juga harus mengeluarkan biaya transportasi hingga Rp30.000 untuk pergi-pulang ke pasar sentral demi mendapatkan beras murah.
Salah seorang warga Perumnas Lompoe, Handayani, mengaku sempat kebingungan dan mendapat informasi simpang siur terkait penyebab hilangnya beras SPHP di toko pengecer.
“Saya keliling di empat toko pengecer tidak ada beras Bulog. Katanya ada info dari pedagang kalau pasar melarang Bulog kasih keluar beras ke pengecer di luar pasar supaya pasar ramai. Kalau kami yang tinggal jauh di atas (Lompoe) harus ke pasar, ongkos ojek atau bentor saja sudah Rp30.000 pergi-pulang. Uang pas-pasan, malah makin menderita,” ungkap Handayani.
Ia berharap pihak Bulog tetap memperhatikan warga yang tinggal di kawasan pegunungan atau pemukiman yang jauh dari pasar utama agar distribusi beras SPHP tidak hanya berfokus di dalam pasar.
Menanggapi keluhan tersebut, Pimpinan Cabang (Pincab) Bulog Parepare, Rahmi Mengerang, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa persediaan beras di gudang Bulog sebenarnya sangat melimpah. Namun, distribusi beras SPHP ke pengecer di luar pasar belakangan ini berkurang akibat kendala teknis pada ketersediaan kemasan.
“Stok beras kami sangat banyak dan berlimpah. Namun, yang terbatas saat ini adalah stok kemasan khusus SPHP yang pengirimannya masih ditunggu dari Jawa. Karena kemasan terbatas dalam dua minggu terakhir ini, distribusi ditata ulang dan diutamakan terlebih dahulu untuk pedagang di dalam pasar,” jelas Rahmi.
Rahmi menambahkan, isu yang menyebutkan adanya pelarangan total penjualan di luar pasar tidak sepenuhnya benar. Pihaknya tetap berupaya melayani pengecer di luar pasar meskipun jumlah pasokannya disesuaikan secara terbatas hingga pasokan kemasan SPHP kembali normal.




















