PAREPARE, RADIOMESRA. COM – Sampah masih menjadi masalah lingkungan yang belum tertangani secara optimal, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Ketidakseimbangan antara produksi sampah dan kemampuan pengelolaannya menjadikan isu ini terus berlanjut.
Merespons tantangan tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Hasanuddin (KKN UNHAS) Gelombang 114 yang bertugas di Kelurahan Lumpue menggelar Seminar Program Kerja di Aula Kelurahan. Salah satu fokus dalam seminar tersebut adalah memperkenalkan budidaya maggot sebagai inovasi dalam mengurai sampah organik.
Koordinator KKN UNHAS Kelurahan Lumpue, Alief Cristo Marsan, memaparkan tiga pilar utama program kerja mereka, yaitu pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif, pengolahan sampah, serta pencegahan stunting di masyarakat.
“Untuk program KKN 114 lumpue itu, yang pertama, kita menyasar di tema pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif, yang kedua pengolahan sampah atau TPS 3R, dan yang ketiga itu, kami menyasar pada pencegahan stunting.” Kata Arief.
Lanjut Arief, untuk pengolahan sampah, mereka ada satu program yaitu budi daya maggot untuk mengurangi sampah organik budidaya untuk maggot. Sistim menggunakan larva dari hasil penetasan telur dari blak soldier butterfly dalam bahasa indonesia Lalat tentara hitam). Lalat ini dia beda dengan lalat rumah ataupun lalat Hijau, karena kalau lalat Hijau ataupun lalat rumah dia menghinggapi tempat-tempat yang kotor sedangkan untuk lalat hitam ini dia menghinggapi bahan-bahan yang bersifat fermentasi.
“Untuk program maggot ini, pertama kami laksanakan sosialisasi sebagai pemahaman kepada masyarakat, bahwa ternyata ada inovasi mengenai pengurangan sampah organik, yang lebih ramah lingkungan. Karena di sini dia dari prosesnya itu dia menggunakan makhluk hidup. Jadi dia tidak memerlukan semacam zat-zat kimia, ataupun semacamnya, ataupun alat yang lebih kompleks. Dan yang kedua, kita laksanakan itu pembuatan prototype-nya. Jadi kami akan membuat suatu kandang yang sebagai model percontohan, yang nantinya bisa dicontoh oleh masyarakat lumpue yang ingin membuat juga kandang tersebut. Dan yang ketiga, nanti kami buat juga seperti buku panduan, agar nanti dari pihak yang kami berikan percontohannya itu bisa lebih mengelola lagi dari sistemnya agar berkelanjutan.” Jelas Arief
Menurut penjelasan Alief, maggot ini berasal dari larva lalat tentara hitam yang berbeda dari lalat rumah biasa. Lalat tersebut cenderung menghinggapi bahan fermentasi, sehingga lebih higienis dan aman digunakan dalam pengolahan sampah organik.
Melalui seminar ini, mahasiswa KKN berharap dapat menyosialisasikan metode pengelolaan sampah yang ramah lingkungan kepada masyarakat. Budidaya maggot dianggap sebagai pendekatan berbasis makhluk hidup tanpa penggunaan bahan kimia maupun alat kompleks.




















