PAREPARE, RADIOMESRA. COM – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan sosialisasi lomba penulisan dan penerjemahan Buku Cerita Anak Dwibahasa (bahasa daerah dan Indonesia). Sosialisasi itu dilakukan langsung oleh Kepala Balai Bahasa Sulsel, Dr Ganjar Harimansyah di Rujab Wali Kota Parepare, Rabu, (23/03/23)
Kegiatan itu dihadiri sejumlah perwakilan guru bahasa daerah yang tergabung dalam organisasi Ikatan Guru Bahasa Daerah (IGBD), Pengurus Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia (PPBDI) Kota Parepare, KKG, MGMP, serta sejumlah Penggiat Literasi dari komunitas Teras Baca dan Rumah Belajar Cinta Damai (RBCD).
Menurut Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulsel, Dr Ganjar Harimansyah, Parepare dipilih lantaran dianggap istimewa mengingat daerah ini telah mendapat pengakuan oleh negara sebagai daerah penerima penghargaan pada bidang pelestarian bahasa daerah
“Kami mendapat apresiasi sebagai fakta lestari bahasa daerah sengaja datang ke Parepare untuk mensosialisasikan program penulisan dan penerjemahan buku cerita anak dibahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Kami mengharapkan ini kami sampaikan ke Pak hadis mudah-mudahan para guru guru terutama bisa mengikuti program ini, sehingga nanti bisa banyak buku cerita anak lahir di kota Parepare ini. Nanti buku tidak hanya dibaca di Sulawesi Selatan tapi ini merupakan bagian literasi nasional. Jadi ini bentuk apresiasi kami juga langsung datang mensosialisasikan program ini kota”. Kata Ganjar.
Kegiatan yang dikemas dengan diskusi interaktif ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare yang juga Plt Kepala Dinas Perpustakaan, Arifuddin Idris.
“Kegiatan hari ini adalah sebuah bentuk perhatian dari Balai Bahasa terkait potensi penulis di Parepare. Ini adanya, sehingga beliau datang untuk mensosialisasikan apa yang dilakukan. Itulah harapan saya tadi bahwa sebenarnya ini menjadi tanggung jawab kami. Ini harus tersosialisasikan karena ini merupakan ruang bagaimana punya potensi bakat, kalau tidak ada ruang tercipta mereka tidak mampu mengekspresikan karya-karya. Tentu menjadi evaluasi kami karena ada target-target yang kami harapkan misalkan dari 46 kalau tidak mampu sampai akan menjadi evaluasi bagi kami bagaimana bisa lagi untuk lebih baik ke depan.” Ungkap Arifuddin.




















